Proses Keperawatan

Posted by Ali Sadikin

Asuhan keperawatan merupakan serangkaian tindakan untuk memberikan perawatan kepada klien. Di dalam asuhan keperawatan terdapat proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, analisis data, intervensi implementasi, dan evaluasi. Seluruh rangkaian proses keperawatan tersebut harus dilakukan secara runut dan keseluruhan untuk mencapai asuhan keperawatan yang optimal dan komprehensif. Berikut adalah ulasan masing-masing langkah dalam proses keperawatan:

1. Assesment (pengkajian)

pengkajian keperawatan
https://www.flickr.com/photos/waltstoneburner/3372874449/
Pengkajian merupakan langkah awal proses keperawatan. Pengkajian pada pasien meliputi identitas pasien dan keluarga, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, genogram, riwayat pengobatan, pola fungsi kesehatan, sosial dan spiritual, dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik bisa dilakukan melalui dua cara yaitu head to toe atau B1-B6. Head to toe merupakan pemeriksaan fisik yang dimulai dari bagian kepala hingga bagian ekstremitas bawah, yakni kaki secara berurutan, antara lain:
  • B1-B6 merupakan pemeriksaan fisik yang mengacu pada tiap bagian organ.
  • B1 (breathing) merupakan pengkajian bagian organ pernapasan.
  • B2 (blood) merupakan pengkajian organ yang berkaitan dengan sirkulasi darah, yakni jantung dan pembuluh darah.
  • B3 (brain) merupakan pengkajian fisik mengenai kesadaran dan fungsi persepsi sensori.
  • B4 (bladder) merupakan pengkajian sistem urologi.
  • B5 (bowel) merupakan pengkajian sistem digestive atau pencernaan.
  • B6 (bone) merupakan pengkajian sistem muskuloskletal dan integumen.
Seluruh rangkaian pemeriksaan fisik tersebut bisa dilakukan dengan I-P-P-A (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi), kecuali bagian B5 yang dilakukan secara I-A-P-P. Karena jika dilakukan perkusi dan palpasi sebelum diauskultasi pada bagian abdomen, dikhawatirkan akan mengubah frekuensi bising usus yang dievaluasi.
Inspeksi adalah melihat, palpasi adalah meraba, perkusi adalah mengetuk menggunakan jari, dan auskultasi adalah mendengar menggunakan stetoskop. Pengkajian diakukan secara berurutan dan didokumentasikan pada lembar pengkajian.

2. Analisis data

analisa data perawat
https://www.flickr.com/photos/umnlib/17124006231/
Analisis data merupakan langkah selanjutnya setelah dilakukan proses pengkajian. Dari data pengkajian yang diperoleh bisa jadi ditemukan beberapa gangguan atau keluhan. Gangguan atau keluhan tersebut yang kemudian dianalisis hingga menemukan masalah keperawatan. Analisis data terdiri dari data, etiologi, dan masalah keperawatan. Data terbagi menjadi dua yaitu data subjektif (DS) dan data objektif (DO). DS merupakan data yang diperoleh dari keluhan pasien atau keluarga. Sedangkan DO merupakan data hasil pemeriksaan fisik yang didapat oleh perawat. Dari DS dan DO dapat ditarik masalah keperawatan dan dicari etiologi atau penyebabnya. Dari data, etiologi, dan masalah keperawatan yang muncul dapat ditarik kesimpulan berupa diagnosis keperawatan. Susunan diagnosis keperawatan adalah P-E-S yaitu problem-etiologi-symptom, atau P-E problem-etiologi saja.
Contoh diagnosis keperawatan: ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret. Setelah dirumuskan beberapa diagnosis keperawatan, selanjutnya susunlah prioritas diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan yang diletakkan di prioritas pertama adalah diagnosis keperawatan yang sifatnya mengancam jiwa, misalnya gangguan pertukaran gas, ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Diagnosis juga dibagi menjadi tiga jenis, yaitu diagnosis keperawatan aktual, risiko, dan potensial. Diagnosis keperawatan aktual adalah diagnosis yang muncul saat ini dan harus segera mendapat penanganan. Diagnosis keperawatan risiko adalah hal yang dimungkinkan akan terjadi. Sedangkan diagnosis potensial adalah diagnosis keperawatan yang disusun karena kondisi klien yang telah bagus status kesehatannya. Diagnosis potensial biasanya digunakan pada keperawatan keluarga dan komunitas.

3. Planning (Intervensi)

intervensi perawat
istudentnurse.com
Setelah dilakukan analisis data, maka langkah selanjutnya di dalam proses keperawatan adalah intervensi atau perencanaan. Diagnosis keperawatan yang didapat pada analisis data selanjutnya dibuatkan perencanaan untuk masing-masing masalah keperawatan. Acuan penyusunan intervensi pada masing-masing diagnosis keperawatan dapat dilihat dari buku panduan Diagnosis Keperawatan. Di dalam penyusunan intervensi terdapat tujuan dan kriteria hasil yang dugunakan sebagai acuan pelaksanaan intevensi yang akan dilakukan. Tujuan dan kriteria hasil ini juga bisa dilihat di buku Diagnosis Keperawatan. Di dalam buku tersebut, terdapat serangkaian intervensi keperawatan yang banyak pada tiap diagnosis. Kamu bisa memilih poin-poin perencanaaan yang sesuai dengan kondisi klien yang sedang kamu rawat.

4. Implementing (penatalaksanaan)

implementasi keperawatan
https://www.flickr.com/photos/municipiopinas/6235150510/
Implementasi adalah tahapan selanjutnya setelah penyusunan intervensi. Implementasi merupakan tahapan pelaksanaan dari intervensi yang telah disusun. Dalam implementasi ada kemungkinan tidak semua intervensi yang direncanakan bisa dilakukan. Jadi di dalam pendokumentasian, implementasi hanya intervensi yang telah berhasil dilakukan saja yang didokumentasikan. Pada implementasi juga disebutkan secara jelas terapi yang diberikan kepada pasien beserta dosisnya. Misalkan pada pasien hipertermia. Pada intervensi direncanakan akan diberikan kompres dan kolborasi pemberian anti piretik. Maka di implementasi dituliskan: “diberikan kompres pada area dada, lipatan ketiak, dan lipatan paha serta pemberian obat parasetamol dengan dosis tertentu.”

5. Evaluasi

evaluasi keperawatan
https://www.flickr.com/photos/isafmedia/4517662990/
Setelah dilakukan implementasi, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi. Evaluasi terdiri dari SOAP yaitu Subjective Data, Objective Data, Analisis, dan Planning, yakni:
  • S berisi informasi tentang keluhan pasien saat dilakukan evaluasi.
  • O berisi data hasil pemeriksaan fisik ketika dilakukan evaluasi.
  • A berisi kesimpulan apakah masalah teratasi atau masalah teratasi sebagian atau masalah belum teratasi.
  • P merupakan planning atau perencanaan setelah melihat hasil analisis data. Planning dapat berupa intervensi dilanjutkan, intervensi dihentikan, atau intervensi dimodifikasi.
Evaluasi dilakukan setiap shift jaga perawat, jadi dalam satu hari akan ada tiga kali evaluasi. Hasil evaluasi pasien akan disampaikan saat timbang terima yang dilakukan di tiap pergantian shift jaga.

Proses keperawatan merupakan proses yang hierarkis dan harus dilakukan secara berurutan. Pengkajian yang lengkap dan komprehensif akan dapat digunakan dalam analisis data secara detail, sehingga ditemukan diagnosis keperawatan yang tepat. Dari diagnosis keperawatan yang tepat maka dapat disusun intervensi yang sesuai dan diimplementasikan kepada pasien. Setelah implementasi, perawat wajib melakukan evaluasi.
Demikian ulasan mengenai proses keperawatan. Semoga bermanfaat.
More aboutProses Keperawatan

Penggolongan Obat

Posted by Ali Sadikin

Ilmu Farmasi : Penggolongan Obat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan

Lihat Artikel lain terkait, dengan klik :
PENGGOLONGAN OBAT LENGKAP : penggolongan berdasarkan banyak aspek
KLASIFIKASI OBAT : obat generik, mitu, obat paten, nama dagang, wajib apotek, eselsial, dll
PENGGOLONGAN OBAT TRADISIONAL : Jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka
PENGGOLONGAN NARKOTIKA : golongan I, golongan II dan golongan III

Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi . (Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Sesuai Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi. yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketetapan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter diapotek, diserahkan oleh apoteker), obat keras, psikotropika dan narkotika. Untuk obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter maka pada kemasan dan etiketnya tertera tanda khusus.

Penggolongan Jenis Obat berdasarkan berbagai undang undang dan peraturan menteri kesehatan dibagi menjadi :
1. Obat Bebas
Obat bebas sering juga disebut OTC (Over The Counter) adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. 
Contoh : Parasetamol, vitamin
Obat bebas ini dapat diperoleh di toko/warung, toko obat, dan apotik.
2. Obat Bebas Terbatas  (Daftar W: Warschuwing)
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. disertai tanda peringatan dalam kemasannya:
P1. Awas! Obat Keras. Bacalah Aturan Memakainya.
P2. Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan
P3. Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dan badan.
P4. Awas! Obat Keras. Hanya Untuk Dibakar.
P5. Awas! Obat Keras. Tidak Boleh Ditelan.
P6. Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan.

Contoh obat : CTM, Antimo, noza
Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut juga OTC (over the counter)
Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh di toko obat, dan apotik tanpa resep dokter.
3. Obat Keras (Daftar G : Gevarlijk : berbahaya)
Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. 
Contoh : Asam Mefenamat, semua obat antibiotik (ampisilin, tetrasiklin, sefalosporin, penisilin, dll), serta obat-obatan yang mengandung hormon (obat diabetes, obat penenang, dll)  
Obat keras ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.
4. Obat Psikotropika dan Narkotika  (Daftar O)


a. Psikotropika
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. 
Contoh : Diazepam, Phenobarbital, ekstasi, sabu-sabu 
Obat psikotropika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.

b. Narkotika
   
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. 
Contoh : Morfin, Petidin
Narkotika digolongkan menjadi 3 golongan :
  • Contohnya : Tanaman  Papaver Somniferum L kecuali bijinya, Opium mentah, Opium masak, candu, jicing, jicingko, Tanaman koka, Daun koka, Kokain mentah, dll
  • Contohnya : Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol, Alfaprodina, dll
  • Contohnya : Asetildihidrokodeina, Dekstropropoksifena, Dihidrokodeina, Etilmorfina, dll

    Obat narkotika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter
Lebih jelasnya lihat 5 artikel Narkotika, Penggolongan Narkotika, dan Narkotika golongan I, II, III dan UU Narkotika No. 35 thn 2009 di : LABEL NARKOTIKA

Sumber: Depkes RI (2006) Bina kefarmasian dan kemendiknas RI, Farmasetika dasar, IMO dll

Baca Lagi Artikel Lain, Sedot Ilmunya :

Narkotika
More aboutPenggolongan Obat

Praktik Perawat Mandiri

Posted by Ali Sadikin

Setelah di sahkannya undang-undang keperawatan pada tanggal September 2014 tahun lalu. Perawat kini sudah dapat membuka praktik keperawatan mandiri dan juga berhak memasang papan nama praktik perawat.

Tapi masih banyak teman-teman perawat yang bingung dan bertanya-tanya tentang praktik keperawatan mandiri, apa saja syaratnya?, bagaimana mengurus izinnya?, apa saja yang harus dipersiapkan?, nanti setelah ada kliniknya, apa yang boleh dilakukan?, apa kewenangan perawat? dan lain sebagainya.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita coba membahasnya satu persatu.

Apa saja syarat membuka praktik keperawatan mandiri?
  1. Perawat berpendidikan vokasi dan profesi
  2. Perawat yang memiliki Surat Tanda Registerasi (STR)
  3. Perawat yang memiliki Surat Izin Praktik Perawat (SIPP)
Bagaimana saya bisa mendapatkan Surat Tanda Registerasi (STR)?
Perawat bisa mendapatkan STR jika sudah lulus uji kompetensi, biasanya akan diurus oleh institusi dimana perawat tersebut menempuh pendidikan.

Siapa yang berhak mengeluarkan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP)?
Yang mengeluarkan SIPP adalah pemerintah daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan (kepala dinas kesehatan) yang berwenang di kabupaten/kota tempat domilisi atau tempat dimana perawat menjalankan praktiknya.

Jadi misalnya teman-teman berencana membuka praktik di Jakarta, SIPP dapat diurus di Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Nanti setelah diproses oleh dinkes dan disetujui, maka pemerintah kota DKI Jakarta akan mengeluarkan SIPP teman-teman

Bagaimana saya bisa mendapatkan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP)?
Untuk mendapatkan SIPP, teman-teman harus menyiapkan
  1. Salinan STR yang masih berlaku dan dilegalisir
  2. Memiliki surat rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan (PPNI)
  3. Surat pernyataan memiliki tempat praktik (jika ingin praktik mandiri) atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan (jika bergabung dengan klinik interprofesi atau klinik kolaborasi)
  4. Pas foto berwarna 4 x 6 sebanyak tiga (3) lembar
  5. Surat sehat dari dokter

Poin 4 dan 5 tidak disebutkan di UU Keperawatan tahun 2014, tetapi ada disebutkan di SK menteri kesehatan RI nomor 1239 tahun 2001 tentang registrasi perawat. Penulis tidak mengetahui apakah SK menteri ini masih berlaku atau sudah dihapus, jadi disiapkan saja semua syaratnya untuk berjaga-jaga.

Setelah berkas-berkasnya lengkap. Silahkan diurus di dinas kesehatan di kabupaten/kota tempat teman-teman berdomisili. Jika SIPP sudah keluar, maka teman-teman sudah bisa membuka praktik mandiri.

Apa saja yang harus saya siapkan untuk klinik saya?
Alat yang disiapkan sebenarnya tergantung dari kekhususan dari masing-masing klinik sesuai bidang keahlian teman-teman, misalnya perawat yang mempunyai sertifikat wound care dan memiliki pengalaman sebagai perawat luka, bisa membuka klinik keperawatan luka, atau mungkin ada yang sudah mendapatkan pelatihan keperawatan paliatif, bisa berpikir untuk membuka klinik keperawatan khusus palliative care.

Sementara itu fasilitas dasar yang harus ada adalah:
  1. Perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan dan kunjungan rumah, antara lain:
    Alat untuk mengukur tanda-tanda vital, timbangan, meteran badan.
    Alat untuk mengukur gula darah, asam urat dan kolesterol jika ingin menambahkan, tergantung kemampuan finansial masing-masing.
  2. Obat-obatan
    Ingat, hanya boleh obat bebas dan obat bebas terbatas.
  3. Perlengkapan administrasi
    Meliputi formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan dan formulir persetujuan tindakan keperawatan (i
    nform consent)

Apa saja yang boleh perawat lakukan dalam berpraktik mandiri?
  1. Melaksanakan proses keperawatan antara lain: pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi
  2. Merujuk pasien ke rumah sakit
  3. Memberikan tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan kompetensi
    Misalnya memberikan bantuan hidup dasar, atau penanganan pertama pada kecelakaan (lebih mudah jika kita sudah mendapatkan sertifikat BTCLS).
  4. Berkolaborasi dengan dokter jika ada kasus yang tidak bisa ditangani sendiri.
  5. Memberikan penyuluhan kesehatan dan konseling
    Contohnya perawat yang sudah memiliki sertifikat konselor laktasi, dapat memberikan konseling bagi ibu-ibu yang mengalami masalah pada saat menyusui.
  6. Memberikan obat sesuai resep dokter
    Pasien tuberkulosis rawat jalan yang harus mendapatkan obat injeksi setiap hari selama dua bulan, bisa mendatangi klinik kita. Asal resep dari dokter jelas, dan tentunya dokumentasi harus lengkap untuk menghindari kesalahan pemberian obat.
  7. Memberikan obat bebas dan obat bebas terbatas.

Hal penting yang harus diperhatikan!
  1. Praktik keperawatan mandiri yang kita jalankan harus berdasarkan pada kode etik, standar pelayanan, standar profesi dan standar prosedur operasional (SPO).
  2. Perawat berhak menolak keinginan klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode etik, standar pelayanan, standar profesi dan standar prosedur operasional (SPO).
  3. Rujuk pasien yang tidak dapat ditangani kepada perawat lain, atau tenaga kesehatan lain yang lebih kompeten.
  4. Jangan melakukan pekerjaan tenaga medis/dokter, karena kita tidak berwenang, kecuali jika sudah ada pendelegasian tertulis dari dokter yang bersangkutan.
  5. Pasien berhak memberi persetujuan atau menolak tindakan keperawatan yang akan diterimanya, jadi sebelum melakukan suatu tindakan apapun itu, sebaiknya minta surat persetujuan atau inform consent.
  6. Dokumentasikan segala temuan pengkajian, tindakan, evaluasi yang telah dilakukan kepada pasien
  7. Jangan lupa memajang SIPP dan memasang papan nama di klinik yang dijalankan.
Semoga dunia keperawatan semakin maju!
More aboutPraktik Perawat Mandiri

Tindakan Pemasangan ETT (Endotracheal Tube) Intubasi

Posted by Ali Sadikin

A. PENGERTIAN
Pemasangan Endotracheal Tube (ETT) atau Intubasi  adalah memasukkan pipa jalan nafas buatan kedalam trachea melalui mulut.  Tindakan Intubasi baru dapat di lakukan bila :  cara lain untuk membebaskan jalan nafas (airway) gagal, perlu memberikan nafas buatan dalam jangka panjang, ada resiko besar terjadi aspirasi ke paru.

B. TUJUAN
1. Membebaskan jalan nafas
2. Untuk pemberian pernafasan mekanis (dengan ventilator).

C. PERSIAPAN ALAT YANG DI GUNAKAN
1. Laryngoscope
2. Endotracheal tube (ETT) sesuai ukuran (Pria : no.  7,7.5, 8 ) (Wanita no. 6.5, 7)
3. Mandrin 
4. Xylocain jelly
5. Sarung tangan steril
6. Xylocain spray
7. Spuit 10 cc
8. Orofaringeal tube (guedel)
9. Stetoskop
10.Bag Valve Mask  (ambubag)
11. Suction kateter
12. Plester
13. Gunting
14.Masker

D. PERSIAPAN TINDAKAN
 
1. Posisi pasien terlentang dengan kepala ekstensi (bila dimungkinkan pasien di tidurkan dengan obat pelumpuh otot yang sesuai )
2. Petugas mencuci tangan
3. Petugas memakai masker dan sarung tangan
4. Melakukan suction
5. Melakukan intubasi dan menyiapkan mesin pernafasan (Ventilator)
  • buka blade pegang tangkai laryngoskop dengan tenang
  • buka mulut pasien
  • masukan blade pelan-pelan menyusuri dasar lidah-ujung blade sudah sampai di pangkal lidah- geser lidah pelan-pelan ke arah kiri
  • angkat tangkai laryngoskop ke depan sehingga menyangkut ke seluruh lidah ke depan sehingga rona glotis terlihat
  • ambil pipa ETT sesuai ukuran yang sudah di tentukan sebelumnya
  • masukkan dari sudut mulut kanan arahkan ujung ETT menyusur ke rima glotis masuk ke cela pita suara
  • dorong pelan sehingga seluruh balon ETT di bawah pita suara
  • cabut stylet
  • tiup balon ETT sesuai volumenya
  • cek adakah suara keluar dari pipa ETT dengan Menghentak dada pasien dengan ambu bag
  • cek ulang dengan stetoskop dan dengarkan aliran udara yang masuk leawt ETT apakah sama antara paru kanan dan kiri
    • fiksasi ETT dengan Plester
    • hubungkan ETT dengan konektor sumber oksigen
6. Pernafasan yang adekuat dapat di monitor melalui cek BGA (Blood Gas Analysis) ± ½ – 1jam setelah intubasi selesai
7. Mencuci tangan sesudah melakukan intubasi
8. catat respon pernafasan pasien pada mesin ventilator
More aboutTindakan Pemasangan ETT (Endotracheal Tube) Intubasi

Asuhan Keperawatan Gastroenteritis

Posted by Ali Sadikin

1. Pengertian
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).

Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,1995).

Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.

2. Etiologi

Penyebab dari diare akut antara lain :
  1. Faktor Infeksi
    • Infeksi Virus
      • Retavirus
        • Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah.
        • Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.
        • Dapat ditemukan demam atau muntah.
        • Di dapatkan penurunan HCC.
      • Enterovirus
        • Biasanya timbul pada musim panas.
      • Adenovirus
        • Timbul sepanjang tahun.
        • Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.
      • Norwalk
        • Epidemik
        • Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).
    • Bakteri
      • Stigella
        • Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September
        • Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun
        • Dapat dihubungkan dengan kejang demam.
        • Muntah yang tidak menonjol
        • Sel polos dalam feses
        • Sel batang dalam darah
      • Salmonella
        • Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.
        • Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.
        • Mungkin ada peningkatan temperatur
        • Muntah tidak menonjol
        • Sel polos dalam feses
        • Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.
        • Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.
      • Escherichia coli
        • Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin.
        • Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.
      • Campylobacter
        • Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.
        • Kram abdomen yang hebat.
        • Muntah/dehidrasi jarang terjadi
      • Yersinia Enterecolitica
        • Feses mukosa
        • Sering didapatkan sel polos pada feses.
        • Mungkin ada nyeri abdomen yang berat
        • Diare selama 1-2 minggu.
        • Sering menyerupai apendicitis.
  2. Faktor Non Infeksiosus
    • Malabsorbsi
      • Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
      • Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.
      • Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.
    • Faktor makanan
      Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE).
    • Faktor Psikologis
      Rasa takut,cemas.

3. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.

Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

4. Manifestasi KLinis
  • Nyeri perut (abdominal discomfort)
  • Rasa perih di ulu hati
  • Mual, kadang-kadang sampai muntah
  • Nafsu makan berkurang
  • Rasa lekas kenyang
  • Perut kembung
  • Rasa panas di dada dan perut
  • Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).

5. Komplikasi
  • Dehidrasi
  • Renjatan hipovolemik
  • Kejang
  • Bakterimia
  • Mal nutrisi
  • Hipoglikemia
  • Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

6. Tingkat derajat Dehidrasi
  1. Dehidrasi ringan
    Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
  2. Dehidrasi Sedang
    Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.
  3. Dehidrasi Berat
    Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.

7. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :
  1. Pemeriksaan Tinja
    • Makroskopis dan mikroskopis.
    • pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
    • Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
  2. Pemeriksaan Darah
    • pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
    • Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
  3. Doudenal Intubation
    Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

8. Penatalaksanaan Medis
  1. Pemberian cairan.
  2. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan : Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
  3. Obat-obatan.
Download Askep Gastroenteritis di sini

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gastroenteritis
A. Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment.
Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :
  1. Identitas klien.
  2. Riwayat keperawatan.
    • Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
    • Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
  3. Riwayat kesehatan masa lalu.
    Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.
  4. Riwayat psikososial keluarga.
    Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
  5. Kebutuhan dasar.
    • Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.
    • Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
    • Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
    • Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
    • Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
  6. Pemerikasaan fisik.
    • Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.
    • Pemeriksaan sistematik :
      • Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.
      • Perkusi : adanya distensi abdomen.
      • Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.
      • Auskultasi : terdengarnya bising usus.
    • Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.
      Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.
    • Pemeriksaan penunjang.
      Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.


B Diagnosa Keperawatan
  1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
  2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
  3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
  4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
  6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.


C. Intervensi

Diagnosa 1.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

Tujuan :
Devisit cairan dan elektrolit teratasi

Kriteria hasil :
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang

Intervensi
Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.


Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.

Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.

Intervensi :
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.


Diagnosa 3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan :
Gangguan integritas kulit teratasi

Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada

Intervensi :
Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.


Diagnosa 4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan :
Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang

Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.


Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.

Tujuan :
Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil :
Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.

Intervensi :
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.


Diagnosa 6.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.

Tujuan :
Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan

Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.

D. Evaluasi
  1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
  2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.
  3. Integritas kulit kembali noprmal.
  4. Rasa nyaman terpenuhi.
  5. Pengetahuan kelurga meningkat.
  6. Cemas pada klien teratasi.
More aboutAsuhan Keperawatan Gastroenteritis

Debridement, Apakah itu??

Posted by Ali Sadikin

A. Pengertian
Debridement merupakan suatu tindakan eksisi yang bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis maupun debris yang mengahalangi proses penyembuhan luka dan potensial terjadi atau berkembangnya infeksi sehingga merupakan tindakan pemutus rantai respon inflamasi sistemik dan maupun sepsis. Tindakan ini dilakukan seawal mungkin, dan dapat dilakukan tindakan ulangan sesuai kebutuhan. 
B. Tujuan
Debridemen merupakan sisi lain pada perawatan luka bakar. Tindakan ini memiliki dua tujuan :
  1. Untuk menghilangkan jaringan yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing.
  2. Untuk menghilangkan jaringan yang sudah mati dalam persiapan kesembuhan luka.
C. Jenis-jenis debridement
  1. Debridemen alami: Pada peristiwa debridemen alami, jaringan mati akan memisahkan diri secara spontan dari jaringan viable yang ada di bawahnya. Namun, pemakaian preparat topical anti bakteri cenderung memperlambat proses pemisahan ester yang alami. Tindakan mempercepat proses ini akan menguntungkan bagi pasien dan dapat dilakukan dengan cara-cara lain seperti debridemen mekanis atau bedah sehingga waktu antara terjadinya invasi bakteri dan  tumbuhnya masalah yang lain dapat dikurangi.
  2. Debridemen mekanis: Debridemen mekanis meliputi penggunaan gunting bedah dan forsep untuk memisahkan dan mengangkat eskar. Teknik ini dapat dilakukan oleh dokter atau perawat yang berpengalaman, dan biasanya debridemen mekanis dikerjakan setiap hari pada saat penggantian balutan serta pembersihan luka. Debridemen dengan cara-cara ini  dilaksanakan sampai tempat yang masih terasa sakit dan mengeluarkan darah. Preparat hemostatik atau balutan tekan dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah yang kecil.
  3. Debridemen bedah: Debridemen bedah merupakan tindakan operasi dengan melibatkan eksisi primer seluruh tebal kulit sampai fasia ( eksisi tangensial ) atau dengan mengupas lapisan kulit yang terbakar secara bertahap hingga mengenai jaringan yang masih berdarah. Tindakan ini dapat dimulai beberapa hari atau segera setelah kondisi hemodinamik pasien stabil dan edemanya berkurang. Kemudian lukanya segera ditutup dengan graf kulit atau balutan. Balutan biologic temporer atau balutan biosintetik dapat digunakan dahulu sebelum graf kulit dipasang pada pembedahan berikutnya.
D. Perawatan
Imobilisasi: Dalam usaha mencapai imobilisasi total, maka pembidaian harus mencangkup sendi diatas dan dibawah fraktur, walaupun umumnya ujung tulang dapat dikunci pada posisinya sewaktu reposisi sehingga tak memerlukan imobiisasi kedua sendi seperti sebagian besar faraktur pergelangan tangan dan pergelangan kaki, dimana siku dan lutut dapat dibiarkan bebas.(Pembidaian Eksterna )

Ada beberapa metode pembidaian eksterna
  • Pembidaian dengan gips
  • Traksi ; tetap dan balanceAlat fiksasi eksterna 
Metode pembidaian eksterna yang umumnya dipakai adalah dengan gips, yang dalam pemakainya ada tiga hal praktis yang harus diperkirakan :
  • Jangan memasang gips dengan melekat erat dengan kulit ditempat yang ada resiko pembengkakan, karena akan melemahkan sirkulasi diekstermitas.
  • Sewaktu memasang gips harus selalu dicegah terbentuknya tonjolan atau identasi karena bila telah mengertas akan menimbulkan dekubitus.
  • Gips harus dipasang secara halus, rata dan cepat sehingga keseluruhan gips menjadi satu kesatuan, bukan terbentuk lapisan-lapisan yang bisa pecah.
Traksi dipakai bila tenaga deformitas bias mengancam stabilitas suatu reposisi. Bias longitudinal dengan mengunakan bidai Thomas yang tetap atau balanced ataupun Hamilton Russel balanced traction, parkins spilit bed traction atau traksiskeletal kalkaneum atau tibia distalis.
Alat fiksasi eksterna telah diperkenalkan kembali untuk pengobatan fraktur terutama fraktur tibia komunitif dan compound.
More aboutDebridement, Apakah itu??

Prosedur Pemeriksaan Laboratorium TES WIDAL

Posted by Ali Sadikin

Berikut ini adalah prosedur pemeriksaan laboratorium TES WIDAL untuk mendeteksi adanya infeksi Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi
Judul                    : Tes Widal
Metode                 :    1. Uji Widal Lempeng ( Slide Agglutination Test / SAT )
                                 2.  Uji Tabung ( Tube Agglutination Test / TAT )
Tujuan             : Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi dalam serum
Prinsip                 :  Kemampuan antibodi dalam serum pasien dalam mengaglutinasi antigen Salmonella O ( antigen somatik ) dan Salmonella H ( antigen flagela ). Titer antibodi ditunjukkan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat menunjukkan aglutinasi.
Alat dan bahan    :     1. Pipet serologi
                               2. Tes tube kecil 75x12mm
                               3. Saline fisiologis (0,9%)
                               4. Waterbath
                               5. Omega Febrile test slide
                               6. Suspensi antigen somatik dan flagela
Dasar teori           : Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigensomatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan sedangkan uji tabung membutuhkan teknik yang lebih rumit tetapi dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan. Tubuh yang kemasukan Salmonella typhosa akan terangsang untuk membentuk antibody. Antibodi ini bersifat spesifik, artinya hanya bereaksi dengan antigen suspensi kuman tipus, maka akan terjadi aglutinasi. 
Cara kerja            :  A. Slide Aglutinasi
  1. Dengan menggunakan pipet khusus untuk tiap pengenceran, sejumlah serum berikut ditambahkan di atas lingkaran slide berdiameter 27mm :
0,08ml  0,04ml  0,02ml  0,01ml  0,005ml
  1. Antigen yang telah tersuspensi sepenuhnya ditambahkan sebanyak 1 tetes tepat pada lingkaran slide
  2. Campur dan ratakan hingga ke seluruh permukaan dalam lingkaran
  3. Dengan perlahan dan sering, guncang dan putar tes slide selama 1 menit hingga terlihat adanya aglutinasi
  4. Hasil yang diperoleh dicocokkan dengan titer tabung aglutinasi berturut-turut
1:20    1:40    1:80    1:160    1:320 
  1. Dianjurkan untuk mencocokkan hasil titrasi slide dengan teknik tabung.
B.  Tube aglutination
  1. Siapkan sebuah rak dengan 10 tabung
  2. Tambahkan 1,9ml saline pada tabung 1 dan 1,0 ml saline pada tiap tabung lainnya
  3. Tambahkan 0,1 ml serum pasien pada tabung 1, campur dengan baik.
  4. Ambil 1,0 ml dari tabung 1 dan pindahkan pada tabung 2, lanjutkan pengenceran secara serial sampai tabung 9 , lalu buang 1 ml dari tabung 9.
  5. Tambahkan 1 tetes suspensi antigen yang telah dicampur homogen pada masing-masing tabung. Jangan mencampur suspensi sebelum dipakai.
  6. Tabung 1 sampai 9 sekarang mengandung serum yang diencerkan dari 1/20 sampai 1/5120. Tabung 10 hanya mengandung saline dan antigen sebagai antigen kontrol
  7. Campur sampai homogendan inkubasi pada suhu berikut, kemudian periksa adanya aglutinasi
Titrasi antigen O pada suhu 50C selama 4 jam
Titrasi antigen H pada suhu 50C selama 2 jam
Antigen kontrol tidak menunjukkan adanya aglutinasi
Hasil                    : Aglutinasi pada antigen menandai adanya antibodi. Titer lebih dari 1/80 menunjukkan adanya aglutinasi.
Interpretasi hasil :  Hasil positif apabila terjadi aglutinasi
           Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.

Sumber :http://myblogaintyours.blogspot.com
More about Prosedur Pemeriksaan Laboratorium TES WIDAL