A. Definisi & Klasifikasi
Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Preeklampsia adalah perkembangan hipertensi dengan proteinuria dan edema atau keduanya. (Bobak, 2005).
Preeklampsia dibagi menjadi 2, yaitu preeklampsia ringan dan berat.
B. Etiologi
Tidak ada profil tertentu yang mengidentifikasikan wanita yang akan menderita preeklampsia. Akan tetapi, ada beberapa faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan perkembangan penyakit: primigravida, grand multigravida, janin besar, kehamilan dengan janin lebih dari satu, morbid obesitas.
Kira-kira 875% preeklampsia terjadi pada kehamilan pertama. Preeklampsia terjadi pada 14-20% kehamilan dengan janin lebih dari satu dan 30% pasien mengalami anomali rahim yang berat. Pada ibu yang mengalami hipertensi kronis atau penyakit ginjal, insiden dapat mencapai 25 %(Zuspan,1991 dalam Bobak,2005).
C. Fisiologi & Patofisiologi
1. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan
kardiovaskuler
1) peningkatan volume darah
2) penurunan resistensi perifer total, akan terlihat penurunan TD
3) peningkatan curah jantung
4) peningkatan konsumsi oksigen
5) Edema fisiologis berkaitan denganpenurunan tekanan osmotok koloid plasma dan peningkatan tekanan hidrostatik vena kapiler
Hematologi
1) Peningkatan faktor pembekuan darah
2) Penurunan albumin serum
ginjal
peningkatan aliran plasma ginjal dan laju filtrasi glomerulus
2. Patofisiologi preeklampsia
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus.
3. Sindrom HELLP
Sindrom hellp adalah suatu kondisi yang multisistim, merupakan suatu bentuk preeklamsi-eklamsi berat. Dengan berbagai keluhan yang menunjukan adanya bukti laboratorium umum sindrom hemolisis (H) sel darah merah, peningkatan enzim (EL), trombosit rendah (LP). Keluhan yang terjadi bervariasi dari malaise nyeri uluhati, mual dan muntah, sampai gejala menyerupai virus yang tidak spesipik. Dan ini biasanya terjadi pada masa kehamilan trimester ke dua dan awal trimester ke tiga dan awalnya menunjukan tanda-tanda preeklamsi. Sindrom HELLP ini diduga terjadi perubahan yang mengiringi preeklamsi. Dan untuk mengetahui tingkat keparahan sindrom HELLP ini dilihat dari trombositopenia yang merupakan temuan yang umum.
D. Manifestasi klinis
Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala – gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala – gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul
E. pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fisik:Pengukuran tekanan darah, pemeriksaan edema (dependen atau pitting), refleks tendon profunda (RTP)
2. pemeriksaan Laboratorium: hitung sel darah lengkap, pemeriksaan pembekuan, Enzim hati, Kimia darah, pemeriksan urin untuk menilai proteinuria
F. Penatalaksanaan
Menghentikan kehamilan adalah pengobatan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, fetus bisa saja dalam keadaan prematur atau keadaan bahaya. Preeklampsia dikontrol sebelum dilakukan induksi pada persalinan. Jika persalinan tidak siap untuk diinduksi, maka akan dilakukan bedah sectio sesaria.
SEKSIO SESARI
A. Defenisi & klasifikasi
1. Defenisi
Suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim (Wiknjoesastro, 2000) Sectio Caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. (Mochtar, 1998).
Seksio saesaria adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. (Arif Mansjoer, 2001).
ETIOLOGI
Seksio sesarea dilakukan jika ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan bila dibiarkan maka dapat terjadi komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. 3 faktor tersebut adalah :
a. Jalan lahir (passage)
b. Janin (passanger)
c. Kekuatan yang ada pada ibu (power)
3. Klasifikasi seksio sesaria
1) Menurut tipenya
§ Seksio caesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
§ Seksio caesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
§ Seksio caesaria transperitonialis yang terdiri dari Sektio caesaria ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.
2) Menurut sayatan pada rahim
§ Sayatan memanjang (longitudinal) menurut
§ Sayatan melintang (transversal)
§ Sayatan huruf T (T-incision).
B. Indikasi
Indikasi sectio cesaria antara lain:
1. Pada ibu.
· Disproporsi kepala panggul
· Disfungsi uterus
· Distosia jaringan lunak
· Plasenta previa
· Ketuban pecah dini
· Preeklampsi - Eklamsi
2. Pada Anak
· Janin besar
· Gawat janin
· Letak lintang
· Kelainan tali pusat
· Bayi Kembar
C. Komplikasi
1. Pada Ibu :
· Infeksi puerperalis
· Perdarahan
· Luka pada kandung kemih
· Rupture uteri
2. Pada Anak
· Kematian perinatal
D. Penatalaksanaan
Perawatan Post Operasi Seksio caesarea.
a. Analgesia
Biasa diberikan untuk untuk mengatasi rasa sakit.
b. Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus.
c. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun
demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.
d. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.
e. Ambulasi
Dapat dilakukan pada hari pertama setelah pembedahan, dengan bantuan perawat dan pada hari kedua dapat berlatih jalan dengan bantuan perawat.
f. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.
g. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.
h. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi.
i. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi.
E. Pemeriksaan penunjang
Ø Pemeriksaan darah : leukosit > 15.000/mm³
Ø Tes lakmus merah menjadi biru
Ø Amniosentesis
Ø USG : menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang
POST PARTUM
A. Definisi & Tahapan Post Partum/Nifas
1. Defenisi
Nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998).
Nifas adalah masa dimulainya plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas kira-kira berlangsung selama 6 minggu (Winkjosastro, 2002).
2. Tahapan masa nifas
Masa nifas dibagi dalam 3 tahap :
a. Immediate post partum : masa setelah post pertum sampai 24 jam setelah melahirkan
b. Early post partum : masa setelah hari pertama post partum sampai dengan minggu pertama post partum.
c. Late post partum : masa setelah minggu pertama post partum sampai dengan minggu ke V post partum.
B. Tujuan perawatan nifas
1. Menjaga kesehatan ibu, bayinya baik fisik maupun psikologik
2. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3. Mencegah terjadinya infeksi
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, pemberian imunisasi kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
5. Untuk mempercepat pemulihan kembali alat-alat kandungan seperti pada keadaan sebelum hamil
6. Untuk memperbanyak produksi ASI
C. Perubahan-perubahan fisiologis pada masa nifas
.1) Sistem Reproduksi
a. Involusio Uteri
Involusio adalah pemulihan uterus pada ukuran dan kondisi normal setelah kelahiran bayi. Involusio terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusio disebabkan oleh proses autolysis, dimana zat protein dinding rahim pecah, diabsorbsi dan kemudian dibuang sebagai air kencing.
Tinggi kundus uteri menurut masa involusi.
- Bayi lahir : Tinggi fundus uteri setinggi pusat
- Plasenta lahir : 2 jari bawah pusat
- 1 minggu : pertengahan pusat simfisis
- 2 minggu : Tidak teraba di atas simfisis
- 6 minggu : Bertambah kecil
- 8 minggu : Sebesar normal
b. Involusio Tempat Plasenta
Pada pemulaan nifas, bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut hal ini disebabkan karena dilepaskan dari dasar dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah pemukaan luka.
c. Lochia
Yaitu sekret dari kavum uteri dan vagina pada masa nifas. Lochia dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
· Lochia rubra/cruenta
Mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik, pada post partum.
· Lochia serosa
Berwarna merah muda. cairan lebih encer, terdiri dari darah, serum, leukosit dan sisa jaringan. Pada hari 3-4 post partum.
· Lochia alba
Cairan kuning sampai putih10 hari setelah bayi lahir.
d. Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks akan menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan kecil setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
e. Ligamen-ligamen
Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis merenggang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi rertofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
f. Sistem Endokrin
Setelah plasenta dilahirkan penurunan produksi hormone dan organ tersebut terjadi dengan cepat. Hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang tadinya dihambat oleh estrogen dan progesteron yang tinggi di dalam darah kini dilepaskan. Prolaktin akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI.
g. Sistem Cardiovaskuler
Pada dasarnya tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali. Tapi biasanya terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg. Jika ada perubahan posisi, ini disebut dengan hipotensi orthostatik yang merupakan kompensasi kardiovaskuler terhadap penurunan resistensi di daerah panggul.
h. Sistem Urinaria
Selama proses persalinan, kandung kemih mengalami trauma yang dapat mengakibatkan odema dan menurunnya sensitifitas terhadap tekanan cairan, perubahan ini menyebabkan, tekanan yang berlebihan dan kekosongan kandung kemih yang tidak tuntas, hal ini bisa mengakibatkan terjadinya infeksi. Biasanya ibu mengalami kesulitan BAK sampai 2 hari post partum.
i. Sistem Gastrointestinal
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada saat melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan, kurang makan, haemoroid, dan laserasi jalan lahir.
j. Sistem Muskulokeletal
§ Ambulasi pada umumnya mulai 1-8 jam setelah ambulasi dini untuk mempercepat involusio rahim.
§ Otot abdomen terus-menerus terganggu selama kehamilan yang mengakibatkan berkurangnya tonus otot, yang tampak pada masa post pertum dinding perut terasa lembek, lemah, dan kendor. Selama kehamilan otot abdomen terpisah disebut distensi recti abdominalis, mudah di palpasi melalui dinding abdomen bila ibu telentang.
§ Latihan yang ringan seperti senam nifas akan membantu penyembuhan alamiah dan kembalinya otot pada kondisi normal.
k. Sistem Integumen
Penurunan melanin setelah persalinan menyebabkan berkurangnya hiiper pigmentasi kulit.
· Hyperpigmentasi pada aerola mammae dan linea nigra mungkin menghilang sempurna sesudah melahirkan.
D. Perubahan Psikologi
Adaptasi psikologis ibu melalui 3 fase :
1. Fase Taking In (Fase mengambil)
· Dapat terjadi pada hari 1-2 post pertum
· Ibu sangat bergantung pada orang lain
· Adanya tuntutan akan kebutuhan makan dan tidur
· Mengenang saat melahirkan
2. Fase Taking Hold
· Terjadi pada hari 3-10 post partum
· Secara bertahap tenaga ibu mulai meningkat dan terasa nyaman
· Ibu sudah mulai mandiri namun masih memerlukan bantuan
· Mulai memperlihatkan perawatan diri dan keinginan untuk belajar merawat bayinya
3. Fase Letting Go
§ Terjadi setelah 10 hari post partum
§ Ibu mampu merawat diri sendiri
§ Ibu sibuk dengan tanggung jawabnya
E. Perawatan Post Partum
1) Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur telentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke dua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan, dan hari keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang.
2) Diet
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3) Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya, kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan juga karena bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi.
4) Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi BAB keras dapat diberikan obat laksans peroral atau perrektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5) Perawatan payudara
Perawatan mammae dilakukan sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara :
· Pembalutan mammae sampai tertekan
· Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan pariodel.
Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.
6) Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu :
· Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli, dan jaringan lemak bertambah
· Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning-putih susu.
· Hipervaskularisasi pada permukaan dan basian dalam, di mana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
· Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang maka timbul poengaruh hormon loktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu pengaruh oksitoksin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar.
Asuhan Keperawatan Post Partum Dengan Seksio Sesaria Atas Indikasi Preeklampsia
1. Pengkajian
a. Prenatal care
− Riwayat kehamilan dan persalinan
− Lama persalinan
− G? P? A?
− Proses persalinan, type persalinan
− Laporan persalinan dan catatan prenatal
− Therapy atau penggunaan anastesi atau analgesia selama intra partal
b. Tanda-tanda vital
− Tekanan darah pada preeklampsi ringan biasanya turun dalam 48 jam, pada preeklampsi berat/sindrom HELLP ( H:hemolisis, EL: peningkatan enzim, LP:trombosit rendah) kondisi membaik dalam 72-96 jam. TD dimonitor setiap 4 jam selama 48 jam.
− Nadi 56-76 x/menit
− Suhu meningkat sedikit kurang dari 380 C
− Pernapasan, dimonitor setiap 4 jam, bila normal pada 24 jam pertama, monitor setiap 8 jam.
c. Perubahan payudara
− Besar, bentuk, bengkak atau tidak, warna kulit atau areola, suhu
− Puting, obeservasi bentuk, menonjol atau tidak, adanya luka atau lecet
− Kebersihan, kolostrum (meningkat pada hari ke 2-3)
d. Abdomen dan fundus uteri
− Sebaiknya pasien b.a.k dulu / fesika dalam keadaan kosong
− Palapasi, ukur tinggi fundus uteri, posisi, kontraksi, diastasis rekti abdominalis
− Auskultasi bising usus
− Kaji intensitas keluhan mulas-mulas (after pain)
e. Perineum / rektum
− Lochea, observasi terhadap bau, jumlah, sifat pengeluaran, warna
− Keluhan nyeri, adanya hemorid
f. Istirahat / rasa nyaman
− Lamanya, adanya sukar tidur
g. Status psikologis
− Respon terhadap kelahiran / proses melahirkan
− Respon terhadap bayinya
− Perubahan psikologis
− Adaptasi keluarga
h. Pengetahuan
− Perawatan bayi
− Perawatan payudara
− KB
− Cara menyusui
− Cara memandikan bayi dan perawatan tali pusat
− Perawatan perineum
− Senam post partum
− Nutrisi bayi dan ibu
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi post SC.
Gangguan eliminasi: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus.
Risiko infeksi b.d trauma jaringan/ kulit rusak
Risiko kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan adanya perdarahan
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan persiapan penerimaan bayi.
Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan ketegangan selama proses persalinan, nyeri.
Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan immobilisasi
Kurang pengetahuan tentang perawtan bayi, KB, nutrisi berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, I. M & Jensen, M. D. (2000). Maternitas & ginekologi. California: Mosby-Year Book, Inc.
Bobak, Lowdermilk & Jansen. (2005). Keperawatan maternitas. Edisi. 4. Jakarta: EGC
Doenges M. E. (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
Helen Farrer, 2001. Perawatan Maternitas, Edisi 2. Jakarta : EGC.
Wiknjosastro, hanifa. (2002). Ilmu kebidanan. Edisi 3. Jakarta : Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Preeklampsia adalah perkembangan hipertensi dengan proteinuria dan edema atau keduanya. (Bobak, 2005).
Preeklampsia dibagi menjadi 2, yaitu preeklampsia ringan dan berat.
B. Etiologi
Tidak ada profil tertentu yang mengidentifikasikan wanita yang akan menderita preeklampsia. Akan tetapi, ada beberapa faktor resiko tertentu yang berkaitan dengan perkembangan penyakit: primigravida, grand multigravida, janin besar, kehamilan dengan janin lebih dari satu, morbid obesitas.
Kira-kira 875% preeklampsia terjadi pada kehamilan pertama. Preeklampsia terjadi pada 14-20% kehamilan dengan janin lebih dari satu dan 30% pasien mengalami anomali rahim yang berat. Pada ibu yang mengalami hipertensi kronis atau penyakit ginjal, insiden dapat mencapai 25 %(Zuspan,1991 dalam Bobak,2005).
C. Fisiologi & Patofisiologi
1. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan
kardiovaskuler
1) peningkatan volume darah
2) penurunan resistensi perifer total, akan terlihat penurunan TD
3) peningkatan curah jantung
4) peningkatan konsumsi oksigen
5) Edema fisiologis berkaitan denganpenurunan tekanan osmotok koloid plasma dan peningkatan tekanan hidrostatik vena kapiler
Hematologi
1) Peningkatan faktor pembekuan darah
2) Penurunan albumin serum
ginjal
peningkatan aliran plasma ginjal dan laju filtrasi glomerulus
2. Patofisiologi preeklampsia
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus.
3. Sindrom HELLP
Sindrom hellp adalah suatu kondisi yang multisistim, merupakan suatu bentuk preeklamsi-eklamsi berat. Dengan berbagai keluhan yang menunjukan adanya bukti laboratorium umum sindrom hemolisis (H) sel darah merah, peningkatan enzim (EL), trombosit rendah (LP). Keluhan yang terjadi bervariasi dari malaise nyeri uluhati, mual dan muntah, sampai gejala menyerupai virus yang tidak spesipik. Dan ini biasanya terjadi pada masa kehamilan trimester ke dua dan awal trimester ke tiga dan awalnya menunjukan tanda-tanda preeklamsi. Sindrom HELLP ini diduga terjadi perubahan yang mengiringi preeklamsi. Dan untuk mengetahui tingkat keparahan sindrom HELLP ini dilihat dari trombositopenia yang merupakan temuan yang umum.
D. Manifestasi klinis
Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala – gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala – gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul
E. pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fisik:Pengukuran tekanan darah, pemeriksaan edema (dependen atau pitting), refleks tendon profunda (RTP)
2. pemeriksaan Laboratorium: hitung sel darah lengkap, pemeriksaan pembekuan, Enzim hati, Kimia darah, pemeriksan urin untuk menilai proteinuria
F. Penatalaksanaan
Menghentikan kehamilan adalah pengobatan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, fetus bisa saja dalam keadaan prematur atau keadaan bahaya. Preeklampsia dikontrol sebelum dilakukan induksi pada persalinan. Jika persalinan tidak siap untuk diinduksi, maka akan dilakukan bedah sectio sesaria.
SEKSIO SESARI
A. Defenisi & klasifikasi
1. Defenisi
Suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim (Wiknjoesastro, 2000) Sectio Caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. (Mochtar, 1998).
Seksio saesaria adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. (Arif Mansjoer, 2001).
ETIOLOGI
Seksio sesarea dilakukan jika ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan bila dibiarkan maka dapat terjadi komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. 3 faktor tersebut adalah :
a. Jalan lahir (passage)
b. Janin (passanger)
c. Kekuatan yang ada pada ibu (power)
3. Klasifikasi seksio sesaria
1) Menurut tipenya
§ Seksio caesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
§ Seksio caesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
§ Seksio caesaria transperitonialis yang terdiri dari Sektio caesaria ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.
2) Menurut sayatan pada rahim
§ Sayatan memanjang (longitudinal) menurut
§ Sayatan melintang (transversal)
§ Sayatan huruf T (T-incision).
B. Indikasi
Indikasi sectio cesaria antara lain:
1. Pada ibu.
· Disproporsi kepala panggul
· Disfungsi uterus
· Distosia jaringan lunak
· Plasenta previa
· Ketuban pecah dini
· Preeklampsi - Eklamsi
2. Pada Anak
· Janin besar
· Gawat janin
· Letak lintang
· Kelainan tali pusat
· Bayi Kembar
C. Komplikasi
1. Pada Ibu :
· Infeksi puerperalis
· Perdarahan
· Luka pada kandung kemih
· Rupture uteri
2. Pada Anak
· Kematian perinatal
D. Penatalaksanaan
Perawatan Post Operasi Seksio caesarea.
a. Analgesia
Biasa diberikan untuk untuk mengatasi rasa sakit.
b. Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus.
c. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun
demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.
d. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.
e. Ambulasi
Dapat dilakukan pada hari pertama setelah pembedahan, dengan bantuan perawat dan pada hari kedua dapat berlatih jalan dengan bantuan perawat.
f. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.
g. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.
h. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi.
i. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi.
E. Pemeriksaan penunjang
Ø Pemeriksaan darah : leukosit > 15.000/mm³
Ø Tes lakmus merah menjadi biru
Ø Amniosentesis
Ø USG : menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang
POST PARTUM
A. Definisi & Tahapan Post Partum/Nifas
1. Defenisi
Nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998).
Nifas adalah masa dimulainya plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas kira-kira berlangsung selama 6 minggu (Winkjosastro, 2002).
2. Tahapan masa nifas
Masa nifas dibagi dalam 3 tahap :
a. Immediate post partum : masa setelah post pertum sampai 24 jam setelah melahirkan
b. Early post partum : masa setelah hari pertama post partum sampai dengan minggu pertama post partum.
c. Late post partum : masa setelah minggu pertama post partum sampai dengan minggu ke V post partum.
B. Tujuan perawatan nifas
1. Menjaga kesehatan ibu, bayinya baik fisik maupun psikologik
2. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3. Mencegah terjadinya infeksi
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, pemberian imunisasi kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
5. Untuk mempercepat pemulihan kembali alat-alat kandungan seperti pada keadaan sebelum hamil
6. Untuk memperbanyak produksi ASI
C. Perubahan-perubahan fisiologis pada masa nifas
.1) Sistem Reproduksi
a. Involusio Uteri
Involusio adalah pemulihan uterus pada ukuran dan kondisi normal setelah kelahiran bayi. Involusio terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusio disebabkan oleh proses autolysis, dimana zat protein dinding rahim pecah, diabsorbsi dan kemudian dibuang sebagai air kencing.
Tinggi kundus uteri menurut masa involusi.
- Bayi lahir : Tinggi fundus uteri setinggi pusat
- Plasenta lahir : 2 jari bawah pusat
- 1 minggu : pertengahan pusat simfisis
- 2 minggu : Tidak teraba di atas simfisis
- 6 minggu : Bertambah kecil
- 8 minggu : Sebesar normal
b. Involusio Tempat Plasenta
Pada pemulaan nifas, bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut hal ini disebabkan karena dilepaskan dari dasar dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah pemukaan luka.
c. Lochia
Yaitu sekret dari kavum uteri dan vagina pada masa nifas. Lochia dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
· Lochia rubra/cruenta
Mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik, pada post partum.
· Lochia serosa
Berwarna merah muda. cairan lebih encer, terdiri dari darah, serum, leukosit dan sisa jaringan. Pada hari 3-4 post partum.
· Lochia alba
Cairan kuning sampai putih10 hari setelah bayi lahir.
d. Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks akan menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan kecil setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
e. Ligamen-ligamen
Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis merenggang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi rertofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
f. Sistem Endokrin
Setelah plasenta dilahirkan penurunan produksi hormone dan organ tersebut terjadi dengan cepat. Hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang tadinya dihambat oleh estrogen dan progesteron yang tinggi di dalam darah kini dilepaskan. Prolaktin akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI.
g. Sistem Cardiovaskuler
Pada dasarnya tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali. Tapi biasanya terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg. Jika ada perubahan posisi, ini disebut dengan hipotensi orthostatik yang merupakan kompensasi kardiovaskuler terhadap penurunan resistensi di daerah panggul.
h. Sistem Urinaria
Selama proses persalinan, kandung kemih mengalami trauma yang dapat mengakibatkan odema dan menurunnya sensitifitas terhadap tekanan cairan, perubahan ini menyebabkan, tekanan yang berlebihan dan kekosongan kandung kemih yang tidak tuntas, hal ini bisa mengakibatkan terjadinya infeksi. Biasanya ibu mengalami kesulitan BAK sampai 2 hari post partum.
i. Sistem Gastrointestinal
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada saat melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan, kurang makan, haemoroid, dan laserasi jalan lahir.
j. Sistem Muskulokeletal
§ Ambulasi pada umumnya mulai 1-8 jam setelah ambulasi dini untuk mempercepat involusio rahim.
§ Otot abdomen terus-menerus terganggu selama kehamilan yang mengakibatkan berkurangnya tonus otot, yang tampak pada masa post pertum dinding perut terasa lembek, lemah, dan kendor. Selama kehamilan otot abdomen terpisah disebut distensi recti abdominalis, mudah di palpasi melalui dinding abdomen bila ibu telentang.
§ Latihan yang ringan seperti senam nifas akan membantu penyembuhan alamiah dan kembalinya otot pada kondisi normal.
k. Sistem Integumen
Penurunan melanin setelah persalinan menyebabkan berkurangnya hiiper pigmentasi kulit.
· Hyperpigmentasi pada aerola mammae dan linea nigra mungkin menghilang sempurna sesudah melahirkan.
D. Perubahan Psikologi
Adaptasi psikologis ibu melalui 3 fase :
1. Fase Taking In (Fase mengambil)
· Dapat terjadi pada hari 1-2 post pertum
· Ibu sangat bergantung pada orang lain
· Adanya tuntutan akan kebutuhan makan dan tidur
· Mengenang saat melahirkan
2. Fase Taking Hold
· Terjadi pada hari 3-10 post partum
· Secara bertahap tenaga ibu mulai meningkat dan terasa nyaman
· Ibu sudah mulai mandiri namun masih memerlukan bantuan
· Mulai memperlihatkan perawatan diri dan keinginan untuk belajar merawat bayinya
3. Fase Letting Go
§ Terjadi setelah 10 hari post partum
§ Ibu mampu merawat diri sendiri
§ Ibu sibuk dengan tanggung jawabnya
E. Perawatan Post Partum
1) Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur telentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke dua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan, dan hari keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang.
2) Diet
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3) Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya, kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan juga karena bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi.
4) Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi BAB keras dapat diberikan obat laksans peroral atau perrektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5) Perawatan payudara
Perawatan mammae dilakukan sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara :
· Pembalutan mammae sampai tertekan
· Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan pariodel.
Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.
6) Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu :
· Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli, dan jaringan lemak bertambah
· Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning-putih susu.
· Hipervaskularisasi pada permukaan dan basian dalam, di mana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
· Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang maka timbul poengaruh hormon loktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu pengaruh oksitoksin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar.
Asuhan Keperawatan Post Partum Dengan Seksio Sesaria Atas Indikasi Preeklampsia
1. Pengkajian
a. Prenatal care
− Riwayat kehamilan dan persalinan
− Lama persalinan
− G? P? A?
− Proses persalinan, type persalinan
− Laporan persalinan dan catatan prenatal
− Therapy atau penggunaan anastesi atau analgesia selama intra partal
b. Tanda-tanda vital
− Tekanan darah pada preeklampsi ringan biasanya turun dalam 48 jam, pada preeklampsi berat/sindrom HELLP ( H:hemolisis, EL: peningkatan enzim, LP:trombosit rendah) kondisi membaik dalam 72-96 jam. TD dimonitor setiap 4 jam selama 48 jam.
− Nadi 56-76 x/menit
− Suhu meningkat sedikit kurang dari 380 C
− Pernapasan, dimonitor setiap 4 jam, bila normal pada 24 jam pertama, monitor setiap 8 jam.
c. Perubahan payudara
− Besar, bentuk, bengkak atau tidak, warna kulit atau areola, suhu
− Puting, obeservasi bentuk, menonjol atau tidak, adanya luka atau lecet
− Kebersihan, kolostrum (meningkat pada hari ke 2-3)
d. Abdomen dan fundus uteri
− Sebaiknya pasien b.a.k dulu / fesika dalam keadaan kosong
− Palapasi, ukur tinggi fundus uteri, posisi, kontraksi, diastasis rekti abdominalis
− Auskultasi bising usus
− Kaji intensitas keluhan mulas-mulas (after pain)
e. Perineum / rektum
− Lochea, observasi terhadap bau, jumlah, sifat pengeluaran, warna
− Keluhan nyeri, adanya hemorid
f. Istirahat / rasa nyaman
− Lamanya, adanya sukar tidur
g. Status psikologis
− Respon terhadap kelahiran / proses melahirkan
− Respon terhadap bayinya
− Perubahan psikologis
− Adaptasi keluarga
h. Pengetahuan
− Perawatan bayi
− Perawatan payudara
− KB
− Cara menyusui
− Cara memandikan bayi dan perawatan tali pusat
− Perawatan perineum
− Senam post partum
− Nutrisi bayi dan ibu
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi post SC.
Gangguan eliminasi: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus.
Risiko infeksi b.d trauma jaringan/ kulit rusak
Risiko kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan adanya perdarahan
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan persiapan penerimaan bayi.
Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan ketegangan selama proses persalinan, nyeri.
Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan immobilisasi
Kurang pengetahuan tentang perawtan bayi, KB, nutrisi berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, I. M & Jensen, M. D. (2000). Maternitas & ginekologi. California: Mosby-Year Book, Inc.
Bobak, Lowdermilk & Jansen. (2005). Keperawatan maternitas. Edisi. 4. Jakarta: EGC
Doenges M. E. (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
Helen Farrer, 2001. Perawatan Maternitas, Edisi 2. Jakarta : EGC.
Wiknjosastro, hanifa. (2002). Ilmu kebidanan. Edisi 3. Jakarta : Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
{ 0 comments... read them below or add one }
Posting Komentar