PENGERTIAN
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera, ( Smeltzer,S.C,2001). Peritonitis
adalah peradangan peritoneum, suatu membrane yang melapisi rongga
abdomen dan ini dapat terjadi akibat masuknya bakteri dari saluran
cerna atau organ-organ abdomen ke dalam ruang peritoneum melalui
perforasi usus atau rupturnyan suatu organ, ( Corwin, E.J,2000).
Peritonitis adalah suatu proses inflamasi local atau menyeluruh pada peritoneum yang bersifat akut atau kronik, (Horison,2000). Peritonitis adlah peradangan pada lpisan dinding perut (peritoneum), (Inayah, Iin,2004).
KLASIFIKASI
Peritonotis Primer
Gambaran :
- Biasa terjadi pad masa anak-anak dengan sindrom nefrotik atau serosis hati
- Tidak ada sumber infeksi pad intra abdomen
- Lebih bayak diderita perempuan daripada laki-laki
- Kuman masuk melalui aliran darh atau alat genital
- Rasa sakit dan lemas
- Dehidrasi dan nyeri tekan
- Otot abdomen tegang
- Kembung
- Bunyi peristaltic sulit ditemukan
Gambaran :
- Kuman yang masuk banyak biasa dari GIT dan imun klien
- Kuman campuran, aerob dan anaerob
- Adanya sumber infeksi intraperitoneal; apendisitis, difertikulitis, salpingitis kolesistisis, pankreastitis.
- Dapat dari trauma yang menyebabkan rupture pada GIT atau perforasi setelah endoskopi, biopsy
- Dapat terjadi keganasan GIT
- Tertelannya benda asing dan tajam
- Sangat nyeri
- Tidak berani bergerak saat tidur
- Napas pendek
- Awalnya tensi turun sedikit dan nadi lebih cepat, kemudian masuk dalam renjatan dengan nadi kecil dan cepat
- Hipovolemia
- Abdomen tegang
ETIOLOGI
Beberapa penyebab penyakit peritonitis adalah sebagai berikut :
- Bakteri : E.coli, klebsiella, proteus dan pseudomonas.
- Organisme berasl dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.
- Sumber eksternal seperti : cedera atau trauma, inflamasi yang luas dari organ di luar area peritoneum.
- Penyakit-penyakit yang lain seperti appendicitis, ulkus peptikum, divertikulitis dan perforasi usus.
- Proses pembedahan : bedah abdominal dan dialysis peritoneal. (Smeltzer,S.C,2001).
ANATOMI PATOLOGI
Peritoneum adalah lapisan mesotel yang
meliputi rongga perut (peritoneum iritabel) dan alat tubuh dalam rongga
perut (peritoneum viserale) berasal dari lapisan mesoderm embrional.
Fungsi peritoneum ialah sebagi suatu membrane permeable untuk dialysis
yang terus menerus mebuat dan megabsorsi cairan jernih serta memisahkan
zat-zat satu dengan lainnya. Dengan masuknya bakteri ke peritoneum akan
menyebakan peradangan, peritoneum dapat terjadi perlengketan dan
penumpukan caiaran (ascites).
Pada peritonitis baik akut / kronik merata atau setempat,basah atau kering oleh kuman atau cara infeksinya dibedakan atas :
- melalui perforasi tukak / alat tubuh yang meradang hal ini disebabkan kuman peritonitis. Pada peritonitis oleh radang kandung empedu sangat keras mula-mula local pada kuadran atas, kemudian merata, eksudat coklat, abses meluas ke bawah diafragma menjadi abses subfrenik, peritonitis local oleh parasit. Pankreasitis akut hemoragika menyebabkan enzim pancreas merembes keluar masuk peritoneum. Enzim proteolitik dan lipolitik menimbulkan radang dan penghancuran jaringan, sehingga akibat daya enzim lipase terjadi pembebasan asam lemak terikat di kalsium dan tampat sebagai bercak putih dan lemak dan terapung diatas cairan semu yang terapung di peritoneum. Setelah itu terjadi permeasi kuman dari dinding usus dan terjadi radang.
- secara langsung (melalui tuba falopi, operasi steril, kemasukan talcum fenetum, kecelakaan).
- secara hematogen (merupakan komplikasi area sekitar), (Himawan, Sutisna, 1996).
PATOFISIOLOGI
Peradangan peritoneum merupakan
komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari
organ abdomen (missal, appendicitis, salpingitis ) rupture saluran
cerna, atau dari luka tembus abdomen. Organisme yang sering menginfeksi
adalah organisme yang hidup dalam kolon pada kasus rupture apendik,
sedangkan stapilokok dan streptokok sering masuk dari luar.
Reaksi awal peritoneum terhadap infasi
oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrosa. Abses terbentuk antara
perlekatan fibrosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan
sekitarnya membatasi infeksi . bila infeksi menghilang maka perlekatan
juga ikut menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita fibrosa yang
kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus.
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permuaan peritoneum dapat mengakibatkan peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis
umum, aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus paralitik,
usus menjadi atoni dan meregang. Caiaran dan elektrolit hilang kedalam
lumen usus, mengakibatakan dehidrasi, shock, gangguan sirkulasi dan
oliguria. Perlengketan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus
yang merengang dan terjadi obstruksi usus, ( Price,S.A,1995).
PATHWAYDownload Pathway Peritonitis Click here
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari pasien peritonitis adalah :
- Nyeri terlalu lama diatas daerah yang meradang
- Peningkatan kecepatan denyut jantung akibat hipovolemia karena perpindahan cairan kedalam peritoneum.
- Mual muntah.
- Abdomen yang kaku.
- Uleus paralitikus.
- Demam, takikardia, peningkatan sel darah putih.
- Suhu tubuh dan nadi meningkat, (Corwin, 2001).
Gejala lain yang muncul adalah tergantung luasnya peritonitis, beratnya peritonitis,
dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Gejala-gejala yang umum
adalah sakit perut biasanya terus-menerus, muntah, abdomen tegang ,
kaku, nyeri dan tanpa bunyi. Demam dan leukositosis, (Price, SA,1995).
Manifestasi klinis tergantung pada letak dan luas inflamasi. Tipe nyeri
menyebar yang menjadi konstan, setempat lebih hebat, dekat dengan proses
inflamasi, nyeri akan lebih buruk jika bergerak, suhu tubuh dan nadi
meningkat, (Baugman,DC, 2000).
FOKUS PENGKAJIAN
- Data subyektif yang dikumpulkan dari pasien dengan gangguan peradangan akut pada usus meliputi anoreksia, mual, timbul dan meningkatnya ketidaknyamanan pada perut. Jika diperkirakan keracunan makanan, pasien ditanya mengenai kemungkinan sumber makanan yang terkontaminasi.
- Nyeri abdomen biasanya menyeluruh kecuali jika terdapat apendisitis akut. Dengan apendisitis, sering terdapat tahanan otot diatas titik Mc.Burney’s jika dilakukan sedikit penekanan dan kembali ke seperti semula.
- Data obyektf yang dikumpulkan meliputi :
- muntah : frekuensi, jumlah dan adanya darah
- kotoran : frekuensi, karakter, jumlah cairan, adanya bau busuk.
- kembung : penumpukan gas
- tanda-tanda ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (haus, selaput mukasa kering, hemokonsentrasi, oliguria, kelemahan otot)
DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Nyeri berhubungan dengan adanya peradangan peritoneum
- Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dengan gangguan absorpsi nutrient
- Kekurangan volume cairan berhubungandengan kehilangan banyak melalui rute normal (diare dan muntah).
INTERVENSI
1. Nyeri berhubungan dengan adanya peradangan peritoneum
Kriteria Hasil :
- Keluhan nyeri berkurang
- Pasien dapat beristirahat tidur.
- Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi :kaji laporan kram abdomen/ nyeri catat lokasi, lama,intensitas (skala 0-10)
Rasionalisasi :perubahan karakteristik nyeri menunjukan penyebaran penyakit, komplikasi
Intervensi :catat petunjuk nonverbal, gelisah, menolak bergerak, berhati-hati dengan abdomen, menarik diri dan depresi
Rasionalisasi : petunjuk
nonverbal secara psikologis dan fisiologis dapat digunakan sebagai
petunjuk verbal untuk mngidentifikasi beratnya masalah
Intervensi :kaji ulang factor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri
Rasionalisasi :dapat mnunjukan
dengan tepat pencetus (kejadian stress, tidak toleran terhadap makanan)
dan mengidentifikiasi kompliksi
Intervensi : berikan tindakan yang nyaman (missal, pijatan punggung, ubah posisi) dan aktifitas senggang
Rasionalisasi :meningktakna relaksasi, memfokuskan kembali, meningkatkan koping
Intervensi : berikan obat sesuai indikasi
Rasionalisasi :nyeri bervaariasi dari ringan sampai berat dan perlu penangan untuk memudahkan istirahat dan penyembuhan
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dengan gangguan absorpsi nutrient
Kriteria Hasil :
- Berat badan stabil
- Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat.
- Berpartisipasi dalam masukan diet.
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi :timbang BBsetiap hari
Rasionalisasi :memberikan informsi tentang kebuutuhan diit/ keefektifan terapi
Intervensi :dorong tirah baring/ pembatasan aktifitas selama fase akut
Rasionalisasi :menurunkan kebutuhan metabolic dan untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
Intervensi :berikan kebersihan oral
Rasionalisasi :mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan
Intervensi :mulai/ tambahkan diit sesuai indikasi missal cairan jernih, tinggi protein dan kalori, rendah serat
Rasionalisasi : protein perlu untuk menyembuhkan integritas jaringan, rendah serat menurunkan peristaltic
Intervensi :berikan obat sesuai indikasi (donnatal, natrium barbital dengan belladonna probanthine)
Rasionalisasi :antikalinergik
diberikan 15-30 menit sebelum makan untuk menghilanngkan kram dan diare,
motilitas gaster dan absorpsi meningkat
3. Kekurangan volume cairan berhubungandengan kehilangan banyak melalui rute normal
Kriteria Hasil :
- Mempertahankan keseimbangan cairan
- Turgor kulit baik
- Hidrasi adekuat dibuktikan oleh menbran mukosa lembab
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi :awasi
masukan dan haluaran, karakter,jumlah feses, perkiraan kehilangan yang
tak terlihat (berkeringat, ukur BJurin, oliguria)
Rasionalisasi :informasi
tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal, control penyakit usus
merupan pedoman penganti cairan
Intervensi :kaji TTV
Rasionalisasi :hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat meninjukan respon kehilangan cairan.
Intervensi Observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa, penurunan turgor kulit, pengisisan kapiler kulit lambat
Rasionalisasi : menujukan kehilangan caiaran berlebihan/ cdehidrasi
Intervensi :pertahankan pembatasan peroral, tirah baring, hindari kerja
Rasionalisasi :kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus
Intervensi :berikan cairan parenteral, tranfusi darah sesuai indikasi
Rasionalisasi :mempertahankan istirahat usus akan memeerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan
(Doenges,2000).

{ 0 comments... read them below or add one }
Posting Komentar